RSS
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSIAL. Tampilkan semua postingan

Ada 6 Titik Rawan Banjir dan Longsor di Jalur KA Banyuwangi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) IX mencatat ada enam titik jalur kereta api yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi yang rawan banjir dan longsor. 

"Jalur yang rawan longsor ada di wilayah perbukitan di kawasan stasiun Kalibaru. Sedangkan tiga titik banjir berada di antara Stasiun Rogojampi sampai Stasiun Karangasem". jelas Suprapto Humas PT KAI Daop IX Jember kepada Kompas.com, Kamis (28/11/2013). 

Untuk mengantisipasi, Daop IX Jember telah menyiagakan petugas penilik jalan ekstra yang disiagakan di setiap titik perlintasan kereta api yang rawan longsor dan banjir. Selain itu, menurut Suprapto, lokomotif khusus banjir juga disiagakan untuk mengganti lokomatif yang tertahan, agar bisa melintasi badan rel kereta api yang terendam banjir.
Editor : Kistyarini

Longsor dan Ambles, Jalur Trans-Sulawesi Terancam Putus

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Belasan titik longsor dan jalan ambles terlihat di sepanjang jalur Mamasa, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kondisi ini menyebabkan jalur utama penghubung kedua kabupaten tersebut terancam putus. 

Sejumlah titik jalan yang ambles ke dalam jurang hingga lebih dari setengah badan jalan membuat kendaraan harus melaju bergantian dan berhati-hati. Kondisi ini dipicu derasnya curah hujan yang terjadi sejak Rabu hingga Kamis (28/11/2013) pagi ini.

Salah satu kondisi terparah terjadi di Desa Kelapa Dua, Polewali Mandar. Di lokasi ini dua kios di tepi jalan tertimbun longsor, sedangkan sejumlah rumah lainnya kini terancam ambles. 

Anto, salah satu warga korban longsor, mengaku masih beruntung. Pasalnya, saat kejadian, tak ada anggota keluarga di dalam rumah dan kiosnya yang tertimbun. "Warga khawatir longsor susulan masih akan terjadi, dan banyak rumah warga di sepanjang jalur ini terancam bahaya. Beberapa rumah yang tanahnya ambles juga terancam ambruk karena tanahnya terus terkikis banjir," ujar Anto.

Editor : Glori K. Wadrianto

Bulog Siap Ganti Raskin Berkualitas Buruk

TRIBUNNEWS.COM, SUBANG -- Badan Urusan Logistik Divisi Regional Subang dan Purwakarta siap mengganti beras yang diterima oleh masyarakat namun kondisinya buruk. Hal itu dikatakan Kepala Sub Divisi Regional Subang Siti Kuwati menanggapi banyaknya laporan penerima beras untuk warga miskin dalam kondisi tidak berkualitas.
"Kami sering menerima laporan terkait kualitas beras raskin yang jelek. Untuk itu kami siap mengganti beras berkualitas buruk tersebut dengan beras kualitas yang lebih baik," kata Siti kepada Tribun di Subang, Selasa (26/11/2013).
Berbekal banyaknya laporan warga yang menerima beras dalam kualitas yang jelek, ujar Siti, pihaknya telah memperketat pengadaan beras agar beras berkualitas buruk ini tidak diterima oleh warga penerima raskin.
"Dari awal kami sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah mitra pemasok beras di Subang dan sekitarnya. Standar beras bagus itu memiliki kadar air 14 persen, butir menir 2 persen dan butir patah sebesar 20 persen," kata Siti.
Beras-beras berkualitas buruk yang diterima warga tersebut, menurutnya, sedari awal sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dipatuhi oleh mitra kerja Bulog.
"Beras dari Bulog yang dikirim ke penerima beras raskin ini disimpan di gudang Bulog dalam waktu yang lama. Akibat disimpan dalam waktu lama, sangat mungkin terjadi turun mutu," ujarnya.
Karena itu, menurut Siti, Bulog Subang berulang kali menekankan bahwa beras yang masuk ke gudang Bulog harus sesuai dengan standar kualitasnya. Jika beras yang masuk tidak sesuai dengan standar, sangat mungkin kualitasnya jadi buruk ketika disimpan dalam waktu lama.
Pada tahun 2013, kata Siti, Bulog Subang menargetkan pendistribusian beras sebesar 60 ribu ton. "Sampai bulan November, beras yang sudah terdistribusikan mencapai 42 ribu ton. Sisanya ditargetkan bisa terdistribusikan sebelum pergantian tahun," ujarnya.
Siti juga mengatakan stok beras di gudang Bulog Subang mencapai 21 ribu ton. "Stok sebanyak itu, diprediksi untuk delapan bulan ke depan," katanya. (men)
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.

Indonesia Alami Krisis Pangan?

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Oxfam untuk Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menyatakan Indonesia saat ini sudah rawan pangan akibat banyaknya komoditas penting yang diimpor. 

"Menurut saya Indonesia sudah mengalami kerawanan pangan. Tidak terasa. Kita tidak sadar apa yang di depan meja itu berasal dari luar," kata Said dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Minggu (27/10/2013).

Said menuturkan, pada tahun 2011, neraca perdagangan komoditas pangan Indonesia mengalami defisit hingga menembus angka 6 juta dollar AS. Dari berbagai komoditas pangan itu, tiga komoditas yang menjadi penyumbang defisit terbesar, yaitu beras, gandum dan jagung.

Menurut Said, saat ini lima komoditas utama masyarat Indonesia, yaitu beras, jagung, gula, daging, dan kedelai, diimpor dari luar negeri. Indonesia, kata Said, masih beruntung karena kelima komoditas tersebut masih stabil di pasar internasional. "Baru kedelai saja yang kemarin bergejolak," ucapnya.

Sementara itu, profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa memprediksi jika tren itu berlanjut dan dibiarkan, krisis pangan akan terjadi pada pertengahan pemerintahan mendatang. 

"Menurut perhitungan kami, 2014 ini masih aman," katanya. Membantah teori keunggulan komparatif yang dicetuskan David Ricardo, Andreas berpendapat jika negara ingin maju, ia seharusnya memproduksi semua komoditas, terutama komoditas pangan.

Pemerintah seharusnya fokus pada komoditas pangan, kata Andreas, karena komoditas ini menempati posisi terpenting dalam sebuah negara. 

"Ketergantungan sebuah negara akan pangan, bila terjadi fluktuasi harga, kemudian impor kita besar, ekonomi akan kolaps," ujarnya.

Reformasi 1998 di tanah air, kata Andreas, juga dipicu adanya krisis beras di berbagai daerah yang kemudian meletup di tingkat pusat. Begitu juga dengan terjadinya revolusi di Timur Tengah yang diakibatkan adanya krisis pangan. "You control food, you control people," katanya.

Ia pun mencontohkan pemerintah Amerika Serikat yang tidak segan menggelontorkan dana besar-besaran bagi para petaninya, terutama dalam hal menstabilisasi harga pangan. Indonesia, kata Andreas, seharusnya mencontoh AS yang dianggap sebagai model terbaik dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

Indonesia Alami Krisis Pangan?

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Oxfam untuk Koalisi Rakyat Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menyatakan Indonesia saat ini sudah rawan pangan akibat banyaknya komoditas penting yang diimpor. 

"Menurut saya Indonesia sudah mengalami kerawanan pangan. Tidak terasa. Kita tidak sadar apa yang di depan meja itu berasal dari luar," kata Said dalam diskusi di Cikini, Jakarta, Minggu (27/10/2013).

Said menuturkan, pada tahun 2011, neraca perdagangan komoditas pangan Indonesia mengalami defisit hingga menembus angka 6 juta dollar AS. Dari berbagai komoditas pangan itu, tiga komoditas yang menjadi penyumbang defisit terbesar, yaitu beras, gandum dan jagung.

Menurut Said, saat ini lima komoditas utama masyarat Indonesia, yaitu beras, jagung, gula, daging, dan kedelai, diimpor dari luar negeri. Indonesia, kata Said, masih beruntung karena kelima komoditas tersebut masih stabil di pasar internasional. "Baru kedelai saja yang kemarin bergejolak," ucapnya.

Sementara itu, profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa memprediksi jika tren itu berlanjut dan dibiarkan, krisis pangan akan terjadi pada pertengahan pemerintahan mendatang. 

"Menurut perhitungan kami, 2014 ini masih aman," katanya. Membantah teori keunggulan komparatif yang dicetuskan David Ricardo, Andreas berpendapat jika negara ingin maju, ia seharusnya memproduksi semua komoditas, terutama komoditas pangan.

Pemerintah seharusnya fokus pada komoditas pangan, kata Andreas, karena komoditas ini menempati posisi terpenting dalam sebuah negara. 

"Ketergantungan sebuah negara akan pangan, bila terjadi fluktuasi harga, kemudian impor kita besar, ekonomi akan kolaps," ujarnya.

Reformasi 1998 di tanah air, kata Andreas, juga dipicu adanya krisis beras di berbagai daerah yang kemudian meletup di tingkat pusat. Begitu juga dengan terjadinya revolusi di Timur Tengah yang diakibatkan adanya krisis pangan. "You control food, you control people," katanya.

Ia pun mencontohkan pemerintah Amerika Serikat yang tidak segan menggelontorkan dana besar-besaran bagi para petaninya, terutama dalam hal menstabilisasi harga pangan. Indonesia, kata Andreas, seharusnya mencontoh AS yang dianggap sebagai model terbaik dalam mewujudkan kedaulatan pangan.

24 KECAMATAN DI CIAMIS RAWAN LONGSOR

CIAMIS, (PRLM).- Sebanyak 24 kecamatan di Kab. Ciamis dinyatakan rawan longsor oleh Pemkab Ciamis. Karena itu, para camat di 24 kecamatan tersebut diharapkan hati-hati karena sewaktu-waktu longsor bisa saja terjadi seperti di Gunungsawal yang menimpa Cihaurbeuti baru-baru ini.

Ke- 24 kecamatan yang dinyatakan rawan longsor tersebut, tersebar di seluruh wilayah Ciamis di utara, selatan, barat dan timur. Penyebab rawan, bukan karena ada penjarahan hutan, tetapi karena kontur tanah di Ciamis memang seperti itu ditambah buruknya cuaca sekarang.

Hal itu disampaikan Sekda Kabupaten Ciamis Drs. H.Tahyadi A Satibi kepada “PRLM”, usai menerima bantuan dari warga Sukamaju, Cihaurbeuti yang tinggal di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, Rabu (6/4) di Pendopo Kabupaten Ciamis. Bantuan dari warga Sukamaju yang menamakan diri “Reflika Sukamaju” tersebut berupa 500 dus mie dan satu ton beras.

Menurut Tahyadi, melihat besarnya potensi longsot tersebut, Bupati Ciamis Engkon Komara sudah mengeluarkan perintah kepada jajarannya agar selalu mewaspadai datangnya longsor. “Pak Bupati, dalam sejumlah kesempatan selalu mengingatkan tentang perlunya kewaspadaan, agar sekecil apapun gejala longsor bisa diantisipasi. Kewaspadaan tersebut diperlukan karena kawasan Ciamis, seperti kawasan lainnya terus-terusan diguyur hujan,” kata dia.

Sementara itu, Budi, Koordinator Reflika Sukamaju mengatakan bahwa bantuan yang diberikan pihaknya diharapkan bisa membantu warga yang terkena musibh longsor dari Gunungsawal tersebut. Jika tak ada halangan, dalam waktu yang tidak lama lagi, akan kembali datang bantuan untuk warga Ciamis yang terkena musibah.

“Kami, setelah mendengar adanya bencana yang menimpa saudara kami di Cihaurbeuti segera mengumpulkan dana dari warga Ciahaurbeuti yang tinggal di Jabodetabek. Akhirnya, dalam waktu dua hari, dana terkumpul dan dibelikan mie dan beras yang kami bawa ini,” kata Budi. (A-112/A-120)

Pemkab tetapkan status Ciamis waspada bencana

Sindonews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis menetapkan sebanyak 36 di wilayah Kabupaten Ciamis dalam kondisi waspada bencana alam. Ancaman bencana terhadap 36 kecamatan di Ciamis, yaitu bencana alam longsor, banjir, angin puting beliung dan pergerakan tanah atau tanah amblas.
 
Bupati Ciamis Engkon Komara mengatakan, belakangan pihaknya banyak menerima laporan bencana alam dari sejumlah daerah di Kabupaten Ciamis. Kebanyakan, laporan yang diterima yaitu bencana alama longsor dan angin kencang. 

"Atas serangkaian kejadian bencana itu, kami menetapkan satatus Kabupaten Ciamis waspada bencana,” ujar Engkon usai membuka peringatan Hari Ibu di Gedung Puspita GOW Kabupaten Ciamis, Kamis (13/12/2012).
 
Engkon mengatakan, sebenarnya bencana alam di Kabupaten Ciamis sudah mendekati siaga, namun sampai saat ini belum sampai siaga total sehingga statusnya yaitu waspada bencana alam. 

“Kami meminta seluruh masyarakat di Kabupaten Ciamis, khususnya di wilayah Ciamis Utara yang rawan terancam bencana alam longsor dan Ciamis Selatan yang rawan bencana Banjir, sejak saat ini untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana,” terang Engkon.
 
Engkon mengakui, untuk 2012 alokasi anggaran bencana alam hanya teralokasikan Rp1,5 miliar, sehingga pada akhir tahun ini alokasi dana tidak tersangka atau dana bencana alam sudah habis. 

“Sebagai pengalaman pada 2013 mendatang, kami sudha mengalokasikan dana bencana alam lebih besar dari saat ini. Nilainya mencapai Rp10 miliar,” terang Engkon.
 
Sementara itu, akibat hujan deras sebuah tebing di Dusun Nagerang RT02/04, Desa Gerba, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis longsor akibat tidak kuat menahan beban. Tebing sepanjang 150 meter dengan ketinggian 50 meter itu longsor menimpa bantaran Sungai Cibulan. 

Akibat peristiwa itu, air Sungai Cibulan meluap dan merendam areal pesawahan dan kolam ikan milik warga setempat.
 
Selain mengakibatkan kerugian berupa areal petanian dan budidaya ikan, tebing longsor juga mengancam enam unit rumah warga yang berada hanya beberapa meter dari lokasi longsor. 

“Untuk sementara, kami sebanyak enam kepala keluarga (KK) mengungsi ke rumah tetangga terdekat,” terang Dudung.

Manfaat Donor Darah untuk Kesehatan Tubuh

Manfaat Donor Darah untuk Kesehatan Tubuh


Manfaat Donor Darah

Sudahkan anda mendonorkan darah? Status kesehatan seseorang pendonor darah akan berubah setiap tiga bulan sekali, dan dengan mendonorkan darah ini kesehatan diri kita, secara tidak langsung anda sedang memeriksakan diri secara tidak sadar. Dimana bila ada terdapat penyakit menempel di tubuh, pasti bisa cepat terdeteksi, sehingga keuntungannya Anda dapat mengambil penanganan yang optimal dan risiko penyakit untuk sembuh secara cepat karena sudah tahu apa penyakit yang terdapat di tubuh kita. 

Berikut Adalah Manfaat dan Keuntungan Pendonor Darah :

 Bentuk kepedulian terhadap sesama
 Satu kantong darah dapat menyelamatkan 3 nyawa
 Membantu menurunkan berat badan
 Membantu membakar kalori
 Deteksi dini resiko kesehatan
 Melindungi jantung
 Mencegah stroke
 Mengatur kontrol kesehatan
 Meningkatkan sel darah merah
 Meningkatkan kapasitas paru-paru dan ginjal
 Meningkatkan kesehatan psikologis
 Membantu sirkulasi darah
 Menurunkan zat seng dalam darah
 Memperbaharui sel darah baru
 Mencegah resiko kesehatan
 Mencegah penyakit langka
 Mengetahui lebih lanjut tentang tipe darah individu


Itulah manfaat donor darah untuk kesehatan kita dan orang lain yang perlu kita ketahui dan perlu kita juga mendonorkan darah kita. Dengan mendonorkan darah tersebut, darah kotor dan kental kita yang memperlambat peredaran darah dapat dibuang dan diganti dengan darah yang lebih segar. 

Antisipasi Tsunami, BMKG Akan Pasang Radar Laut

TEMPO.COJakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan melengkapi Sistem Peringatan Dini Tsunami dengan radar laut. Deputi Bidang Geofisika BMKG Prih Harjadi menilai radar laut akan sangat membantu mengantisipasi tsunami. 

Tsunami seperti yang terjadi pascagempa besar di Aceh dan sekitarnya, misalnya, akan lebih mudah dan cepat terpantau menggunakan radar laut.

"Ke depan, kami akan memasang radar laut. Dia bisa memonitor gelombang tsunami di laut sebelum sampai ke pantai, sampai sejauh 150 kilometer," kata Prih ketika ditemui di kantornya, 

Sebenarnya Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System) sudah memiliki sejumlah instrumen, antara lain seismograf, buoy, tide gauge, CCTV, hingga sirene peringatan tsunami. Namun tidak semua instrumen ternyata berfungsi baik dan terdapat dalam jumlah yang cukup. 

Prih mengatakan, seismograf, alat untuk memonitor gelombang seismik yang dipancarkan sumber gempa bumi, hanya berjumlah 162 di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia menyumbang 102 unit di antaranya. Sisanya berasal dari pemerintah Jepang, Cina, dan Jerman, serta kerja sama dengan organisasi internasional tentang monitoring ledakan nuklir bawah tanah (CTBTO).

"Dengan jaringan seismograf kita yang sudah cukup padat itu saja masih ada titik-titik yang bolong. Untuk itu jumlahnya ditargetkan menjadi 200-an pada tahun 2014," kata Prih. Pengadaan tambahan seismograf itu pun harus menunggu kepastian dari pemerintah Jepang selaku pemberi bantuan.

Tide gauge, alat pengukur pasang surut air laut, berjumlah sekitar 80 unit di seluruh perairan Indonesia. Tide gauge digunakan untuk mengetahui perkiraan waktu datangnya tsunami ke daratan. Prih mengatakan, kendati cukup canggih dan akurat, ternyata radar laut masih jauh lebih baik mendeteksi tsunami dibanding tide gauge.

"Radar laut bisa memonitor gelombang tsunami di laut sebelum sampai ke pantai. Kalau tide gauge itu (gelombang tsunami) harus sampai ke pantai dulu," ujar dia. Selain itu, radar laut cukup dipasang di daratan sehingga lebih praktis.

Adapun buoy, alat yang dipasang mengapung di laut dengan berbagai fungsi, kondisinya paling mengenaskan. Jumlahnya hanya belasan di seluruh perairan Indonesia yang rawan tsunami. Sepengetahuan Prih, di sepanjang perairan barat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hanya terdapat 2 unit buoy. Itu pun sudah tidak berfungsi optimal.

Ia pun mengakui instrumen yang turut dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi itu lebih sulit bertahan dibanding peralatan lainnya. "Buoy saya kira terlampau sulit ya, karena ngadepin vandalisme, ketidaksengajaan, kerasnya alam, dan cost tinggi untuk perawatan," kata dia. 

Instrumen terakhir adalah sirene peringatan tsunami. Prih mengatakan BMKG memasang 14 unit sirene peringatan di seluruh Sumatera, yakni 6 unit di Nanggroe Aceh Darussalam, 6 unit di Sumatera Barat, dan 2 unit di Bengkulu. Provinsi lain di Sumatera belum memiliki sirene. 

Aktivasi sirene jika terjadi tsunami tidak dapat dilakukan secara otomatis, melainkan harus dilakukan secara manual. Ada dua otoritas yang dapat mengaktifkan sirine, yakni pemerintah daerah setempat jika kekuatan gempa pemicu tsunami di atas 7 skala Richter dan kantor pusat BMKG jika gempanya di atas 8 skala Richter. 

"Itu harus kami aktivasi. Kami tidak mau pakai sistem yang kalau (sensornya) kena air (gelombang tsunami) langsung bunyi," kata Prih menjelaskan mengapa BMKG menghindari cara aktivasi secara otomatis. "Itu kalau untuk lokal-lokal boleh, tapi kalau untuk sistem yang terintegrasi, tidak." 

Dan sirene peringatan dini tsunami ternyata sangat bergantung pada pasokan listrik sebagai sumber tenaga untuk sistem komunikasi aktivasi, seperti yang terjadi di Aceh dua hari lalu. Hanya dua dari enam sirene yang berbunyi lantaran listrik dimatikan setelah terjadi gempa. Itu pun dilakukan secara manual oleh teknisi yang mendatangi lokasi lantaran sirene tidak dapat diaktifkan dari kantor pusat BMKG.

Kerjasama Jerman- Indonesia untuk Sistem Peringatan Dini

Di Kampus Perserikatan Bangsa-bangsa yang membidangi lingkungan hidup dan keamanan manusia UNU-EHS, di Bonn, Jerman, berlangsung ajang pertemuan antara para ilmuwan Indonesia dan Jerman.
Proyek Jerman-Indonesia untuk antisipasi tsunami
Proyek Jerman-Indonesia untuk antisipasi tsunami
Para ilmuwan Indonesia yang meneliti sistem peringatan dini, mempresentasikan hasil riset mereka tentang sistem peringatan dini, untuk mengantisipasi tsunami. Mereka merupakan peneliti Indonesia, yang saling mempertajam pandangan tentang sistem peringatan dini dengan para ilmuwan Jerman dari lembaga GITEWS atau badan kerjasama Jerman dan Indonesia untuk mengantisipasi tsunami lewat sistem peringatan dini. Tsunami memang tidak dapat diramal, namun sistem peringatan dini bagi masyarakat dapat diberikan lewat sistem teknologi yang dikembangkan. Dengan begitu kawasan-kawasan yang berpotensi terancam bencana tsunami dapat lebih waspada. Versi pertama sistem peringatan dini rencananya dapat mulai digunakan November mendatang. Para peneliti mengaku, diperlukan jangka waktu yang cukup lama untuk menciptakan sebuah sistem yang terintegrasi karena rumitnya teknologi untuk pengembangan sistem peringatan dini tersebut. Niklas Gebert, salah seorang peneliti dari UNU-EHS menjelaskan, yang dilakukan saat ini oleh teknologi sistem peringatan dini yang dikembangkan telah sampai pada tahap pengujian intensif sepanjang tahun. "Versi pertama sudah dibangun dan dites selama satu tahun. Data dihimpun dalam satu sistem utama. Dan semua data harus terbukti dapat dikelola sebaik mungkin, sehingga orang-orang yang menggunakan data dapat mengerti sistem ini. Mereka akan dilatih sehingga mereka dapat menarik keputusan bila terjadi tsunami. Namun perlu diingat teknis peralatan peringatan dini ini sangat rumit dan butuh pengembangan untuk membuatnya lebih baik.“ Kendala lain yang dihadapi dalam pembangunan sistem peringatan dini ini adalah sistem koordinasi yang masih lemah. "Begitu banyak pengambil keputusan yang mengurus sistem peringatan dini, begitu banyak badan pemerintah maupun organisasi, baik di tingkat lokal maupun nasional yang harus bekerja sama agar sistem bisa berjalan dalam satu koordinasi yang baik. Mungkin secara umum dapat dibilang sistem koordinasinya masih lemah. Namun ini normal bagi sebuah proyek yang besar. Bahkan juga di Jerman. Jadi tantangannya bukan hanya dari segi politik atau kebijakan, tapi juga teknis. Namun situasi ini harus dilihat sebagai tantangan, bukan kesulitan.“ Untuk itu Gebert berharap masyarakat bersabar sampai agar produk pertama dapat mulai digunakan.
Pengambilan data akan dilakukan dengan menggunakan jaringan GPS resolusi tinggi. Karena tidak semua gempa laut memicu tsunami, maka juga dikembangkan sensor-sensor tekanan pada dasar laut dan pelampung-pelampung GPS yang ditunjang alat pengukur permukaan air laut. Pelampung dipasang di pulau-pulau sekitar Sumatera dan Jawa, dan kemudian seluruh data yang dihimpun akan dianalisa.
Penghimpunan data akan dilakukan seakurat mungkin, mulai dari topografi dasar laut hingga ke kawasan pantai. Data yang dihimpun oleh pusat data nantinya bisa dimanfaatkan setiap kali diperlukan. Pengembangan keahlian masih akan terus dilakukan, karena hingga saat ini jumlah ilmuwan Indonesia di bidang tersebut masih jauh dari cukup.